Book a TableHomeMenuOur StoryWhat's OnJournalHours & Location
Glass of wine being poured at the bar
← BACK TO JOURNAL
Drinks

Cara Memilih Wine untuk Pemula: Red Wine, White Wine & Cara Menikmatinya

Baru mulai minum wine? Pelajari perbedaan red wine dan white wine, dry dan sweet, cara memilih wine, pairing dengan makanan, serta cara pesan tanpa bingung.

6 Min Baca
Share

Melihat wine list untuk pertama kali kadang terasa seperti membaca bahasa yang belum pernah dipelajari.

Ada nama negara.

Nama daerah.

Nama anggur.

Tahun.

Red.

White.

Dry.

Sweet.

Body.

Lalu orang di meja sebelah terlihat memesan dengan sangat yakin seolah-olah semua hal tersebut sudah diketahui sejak lahir.

Tenang.

Menikmati wine tidak membutuhkan ujian.

Anda juga tidak harus bisa membedakan puluhan jenis anggur sebelum memesan satu gelas.

Untuk pemula, memahami beberapa hal sederhana sudah cukup untuk mulai mengetahui wine seperti apa yang Anda sukai.

Dan itu sebenarnya tujuan utamanya.

Bukan terlihat paling mengerti wine di meja.

Tetapi menemukan sesuatu yang enak untuk diminum.

Mulai dari Pertanyaan Paling Sederhana: Red atau White?

Kalau belum tahu harus memesan apa, mulai dari sini.

Red wine atau white wine?

Secara umum, red wine cenderung memiliki rasa dan struktur yang lebih dalam, dengan karakter yang bisa mengingatkan pada buah merah atau hitam, rempah, tanah, cokelat atau kayu, tergantung jenis wine dan cara pembuatannya.

White wine sering terasa lebih ringan dan segar, dengan karakter yang bisa mengarah ke citrus, apel, pir, buah tropis, bunga atau mineral.

Tetapi ini bukan aturan mutlak.

Ada red wine yang ringan.

Ada white wine yang kaya dan penuh.

Jadi jangan anggap red selalu “berat” dan white selalu “ringan.”

Untuk pemula, red atau white hanyalah titik awal yang mudah.

Apa Arti Dry Wine?

Ini salah satu istilah yang paling sering membuat bingung.

“Dry” bukan berarti wine membuat mulut terasa kering karena tidak ada air di dalamnya.

Dalam konteks wine, dry pada dasarnya berarti wine tersebut tidak terasa manis karena hanya sedikit gula tersisa setelah proses fermentasi.

Jadi kalau bartender atau server bertanya:

“Lebih suka dry atau sweet?”

Mereka sedang mencoba mengetahui tingkat rasa manis yang Anda sukai.

Kalau biasanya Anda tidak menyukai minuman manis, mengatakan “saya mau yang dry” sudah sangat membantu.

Apakah Red Wine Selalu Lebih Kuat?

Tidak sesederhana itu.

Red wine sering terasa lebih kuat karena memiliki tannin, body dan rasa yang lebih dalam.

Tetapi kadar alkohol berbeda dari satu wine ke wine lainnya.

Sensasi “kuat” di mulut juga bukan hanya soal alkohol.

Acidity, tannin, sweetness dan body semuanya memengaruhi bagaimana wine terasa.

Karena itu, jangan memilih berdasarkan warna saja.

Lebih berguna menjelaskan jenis minuman yang biasanya Anda sukai.

Apa Itu Tannin?

Tannin adalah salah satu istilah wine yang sering terdengar lebih rumit daripada sebenarnya.

Pernah minum teh hitam yang diseduh terlalu lama dan mulut terasa sedikit kesat?

Sensasinya mirip.

Tannin banyak ditemukan pada red wine dan berasal antara lain dari kulit, biji dan bagian anggur yang terlibat selama proses pembuatan, serta dapat dipengaruhi oleh oak.

Tannin memberikan struktur pada wine.

Sebagian orang menyukai red wine dengan tannin yang terasa jelas.

Sebagian lain lebih menyukai sesuatu yang lembut.

Tidak ada pilihan yang lebih benar.

Apa Itu Body?

Body adalah cara sederhana untuk menjelaskan seberapa “berat” atau penuh sebuah wine terasa di mulut.

Bayangkan perbedaan antara susu skim dan susu full cream.

Keduanya susu, tetapi terasa berbeda.

Wine juga begitu.

Light-bodied wine terasa lebih ringan.

Full-bodied wine terasa lebih kaya dan penuh.

Kalau Anda baru mulai minum wine, Anda bisa mengatakan:

“Saya mau red wine yang tidak terlalu berat.”

atau:

“Saya suka white wine yang ringan dan segar.”

Itu sudah cukup untuk membantu memilih.

Bagaimana Cara Memesan Wine Kalau Tidak Tahu Nama Anggurnya?

Jangan pura-pura tahu.

Cukup jelaskan apa yang Anda suka.

Misalnya:

“Saya baru mulai minum wine. Ada red yang ringan?”

“Saya mau white wine yang dry dan fresh.”

“Saya tidak suka yang terlalu manis.”

“Saya mau wine yang cocok dengan burger.”

“Saya cuma mau satu gelas, yang easy drinking.”

Kalimat seperti itu jauh lebih berguna daripada memilih nama secara acak karena labelnya terlihat menarik.

Bartender atau server yang baik seharusnya membantu, bukan membuat Anda merasa kurang tahu.

Wine by the Glass Adalah Tempat yang Bagus untuk Mulai

Anda tidak harus membeli satu botol.

Untuk pemula, wine by the glass justru sangat berguna.

Anda bisa mencoba satu jenis tanpa komitmen besar.

Kalau suka, pesan lagi.

Kalau tidak, lain kali coba sesuatu yang berbeda.

Semakin banyak mencoba, semakin mudah mengetahui pola selera Anda.

Mungkin Anda selalu kembali ke white wine yang crisp.

Mungkin ternyata Anda suka red wine yang lebih lembut.

Mungkin Anda mengira tidak suka wine, padahal sebelumnya hanya mencoba jenis yang tidak cocok dengan selera Anda.

Red Wine Cocok dengan Apa?

Aturan lama sering mengatakan red wine untuk daging merah.

Ada alasan di baliknya.

Red wine dengan struktur dan tannin yang cukup dapat bekerja baik dengan makanan yang kaya lemak dan rasa, termasuk beef.

Karena itu, red wine dan steak merupakan pairing klasik.

Burger juga bisa bekerja sangat baik dengan red wine.

Beef, cheese, saus dan rasa panggang memberikan cukup banyak karakter untuk berdampingan dengan wine.

Tetapi jangan merasa red wine hanya boleh diminum bersama daging.

Pairing bukan hukum.

White Wine Cocok dengan Apa?

White wine sering dipasangkan dengan makanan yang lebih ringan seperti chicken, seafood, salad atau pasta dengan rasa yang tidak terlalu berat.

Acidity pada white wine juga dapat memberikan rasa segar ketika diminum bersama makanan.

Tetapi sekali lagi, saus dan cara memasak sering lebih penting daripada jenis protein.

Chicken dengan saus creamy mungkin membutuhkan wine berbeda dari chicken dengan rasa citrus dan herbs.

Jadi jangan terlalu terpaku pada aturan “white untuk chicken, red untuk beef.”

Gunakan itu sebagai titik awal, bukan batas.

Wine dengan Burger? Bisa.

Tentu.

Burger bukan makanan yang hanya boleh ditemani beer.

Red wine dapat bekerja sangat baik dengan beef burger, terutama jika ada cheese, caramelised onion atau rasa panggang yang cukup kuat.

White wine juga bisa cocok dengan burger tertentu yang lebih ringan, chicken burger atau makanan dengan rasa segar.

Yang penting adalah keseimbangan.

Wine tidak perlu mengalahkan makanan.

Makanan juga tidak perlu menghilangkan rasa wine.

Kalau keduanya masih terasa enak setelah digabungkan, pairing tersebut berhasil untuk Anda.

Wine dengan Pasta

Jawabannya tergantung pasta apa.

Pasta dengan tomato sauce memiliki acidity yang berbeda dari pasta creamy.

Pasta dengan beef atau saus yang kaya juga berbeda dari seafood pasta.

Karena itu, ketika pairing wine dengan pasta, perhatikan sausnya.

Red wine yang tidak terlalu berat bisa bekerja dengan tomato-based pasta.

White wine dapat terasa sangat natural dengan pasta yang lebih ringan, seafood atau saus creamy tertentu.

Tidak perlu menghafal.

Kalau ragu, beri tahu server apa yang Anda pesan dan tanyakan wine mana yang cocok.

Red Wine Harus Diminum pada Suhu Ruangan?

Tidak selalu.

“Room temperature” sering disalahartikan sebagai suhu ruangan Jakarta.

Itu bisa terlalu hangat untuk banyak red wine.

Red wine umumnya lebih menyenangkan ketika disajikan sedikit sejuk, bukan panas.

White wine biasanya disajikan lebih dingin.

Terlalu dingin juga dapat membuat aroma dan rasa terasa lebih tertutup, sementara terlalu hangat dapat membuat alkohol terasa lebih menonjol.

Anda tidak perlu membawa termometer ke bar.

Cukup pahami bahwa red tidak berarti hangat dan white tidak berarti harus hampir membeku.

Apakah Wine Harus Diputar di Gelas?

Tidak harus.

Memutar wine perlahan di gelas membantu wine berinteraksi dengan udara dan dapat membuat aromanya lebih mudah tercium.

Tetapi tidak perlu membuat gerakan besar seperti sedang mengikuti kompetisi.

Putar sedikit.

Cium.

Minum.

Selesai.

Kalau Anda tidak ingin melakukannya, juga tidak ada masalah.

Wine tetap wine.

Haruskah Mencium Wine Sebelum Minum?

Boleh.

Sebagian besar pengalaman rasa sebenarnya sangat dipengaruhi aroma.

Coba cium wine sebelum minum.

Apa yang Anda rasakan?

Buah?

Citrus?

Vanilla?

Rempah?

Bunga?

Kayu?

Atau mungkin Anda hanya berpikir:

“Baunya seperti wine.”

Itu juga tidak apa-apa.

Kemampuan mengenali aroma berkembang seiring pengalaman.

Tidak ada hadiah untuk menemukan “blackcurrant dengan sedikit cedar dan tanah basah setelah hujan.”

Apakah Wine Mahal Selalu Lebih Enak?

Tidak untuk semua orang.

Harga wine bisa dipengaruhi banyak hal: lokasi kebun anggur, produksi, usia, reputasi produsen, kelangkaan, metode pembuatan, penyimpanan, distribusi dan permintaan.

Wine mahal bisa luar biasa.

Wine dengan harga lebih mudah dijangkau juga bisa sangat menyenangkan.

Untuk pemula, lebih berguna menemukan gaya wine yang disukai daripada langsung mengejar botol mahal.

Setelah tahu selera sendiri, Anda akan jauh lebih mudah menentukan kapan harga yang lebih tinggi terasa layak.

Bagaimana Kalau Saya Tidak Mengerti Grape Variety?

Tidak masalah.

Cabernet Sauvignon, Merlot, Pinot Noir, Chardonnay, Sauvignon Blanc dan nama-nama lainnya akan mulai terasa familiar kalau Anda sering mencoba wine.

Tetapi tidak perlu menghafalnya sekaligus.

Mulai dari pengalaman.

Wine apa yang Anda minum?

Suka atau tidak?

Apa yang Anda suka dari rasanya?

Catat nama grape atau botolnya kalau perlu.

Lain kali, cari sesuatu yang mirip.

Belajar wine bisa terjadi satu gelas pada satu waktu.

Red Wine vs White Wine: Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?

Tidak ada jawaban universal.

Kalau Anda suka sesuatu yang fresh, ringan dan memiliki acidity yang jelas, white wine mungkin menjadi awal yang nyaman.

Kalau Anda suka rasa yang lebih kaya, buah merah atau hitam, spice dan struktur, coba red wine.

Kalau masih tidak tahu?

Coba satu gelas masing-masing pada kesempatan berbeda.

Anda tidak perlu memilih tim.

Banyak orang menikmati keduanya tergantung makanan, cuaca dan mood.

Wine Tidak Harus untuk Acara Spesial

Ini mungkin salah satu persepsi yang membuat wine terasa lebih rumit daripada sebenarnya.

Wine sering dikaitkan dengan anniversary, fine dining atau dinner formal.

Padahal satu gelas wine pada hari Rabu tetap hanya satu gelas wine.

Bisa diminum bersama burger.

Bersama pasta.

Saat after office.

Saat dinner dengan teman.

Atau ketika ingin duduk santai tanpa memesan cocktail.

Tidak perlu menunggu ulang tahun.

Wine Down Wednesday dan Cara Mencoba Wine dengan Santai

Di The Bank Bar & Burgers, kami memiliki Wine Down Wednesday dengan house wine by the glass, red atau white.

Konsepnya memang sederhana.

Anda tidak harus membeli satu botol.

Tidak harus mengerti wine list panjang.

Pilih red atau white.

Nikmati satu gelas.

Kalau suka, lanjut.

Kalau ternyata Anda lebih suka cocktail, beer atau minuman non-alkohol, juga tidak masalah.

Bar seharusnya memberi pilihan, bukan aturan.

Wine dan After Office

Wine juga cocok untuk after office karena tidak selalu membuat malam terasa seperti “pergi minum.”

Satu gelas setelah kerja bisa menjadi bagian dari dinner.

Bisa menemani percakapan.

Bisa menjadi cara untuk menunggu traffic Jakarta sedikit lebih manusiawi.

Dan karena tersedia by the glass, Anda tidak harus mengubah pertemuan singkat menjadi satu botol penuh.

Kadang satu gelas memang cukup.

Kalau Teman Anda Tidak Minum Alkohol

Tidak ada masalah.

Satu meja tidak harus memesan hal yang sama.

Anda bisa minum red wine.

Teman Anda iced tea.

Orang lain coffee.

Seseorang memesan cocktail.

Semua tetap bisa makan dan berbincang bersama.

Kami percaya kebiasaan minum tidak seharusnya menentukan siapa yang boleh merasa nyaman di sebuah bar.

Menikmati Wine di The Bank Bar & Burgers

The Bank adalah bar kecil di Kuningan City, Jakarta Selatan.

Wine adalah salah satu bagian dari pilihan minuman kami, bersama cocktail, whisky, gin, vodka, tequila, beer, coffee dan pilihan non-alkohol.

Ada tamu yang sudah tahu persis wine apa yang mereka suka.

Ada yang hanya mengatakan:

“Red satu.”

Ada juga yang bertanya:

“Kalau saya baru mulai minum wine, enaknya yang mana?”

Semua pertanyaan tersebut normal.

Tidak ada kewajiban untuk terdengar seperti sommelier.

Cara Paling Mudah Memulai

Kalau baru mulai mengenal wine, ingat beberapa hal ini:

Mulai dari red atau white.

Tentukan apakah Anda lebih suka dry atau sedikit manis.

Pikirkan apakah ingin sesuatu yang ringan atau lebih full-bodied.

Pesan by the glass terlebih dahulu.

Coba bersama makanan.

Jangan takut bertanya.

Dan jangan memilih berdasarkan harga saja.

Yang paling penting adalah apakah Anda menikmati gelas tersebut.

Karena pada akhirnya, semua istilah, daerah, grape variety dan aturan pairing hanya membantu menjawab satu pertanyaan sederhana:

Apakah Anda ingin minum wine ini lagi?

Kalau jawabannya iya, Anda sudah belajar sesuatu tentang selera Anda.

Itu lebih berguna daripada menghafal seluruh wine list.

Kalau Anda ingin memahami perbedaan red wine dan white wine lebih lanjut, baca juga Red Wine vs White Wine: What Should You Order?, atau lihat menu kami.

Apakah Anda ingin minum wine ini lagi? Itu lebih berguna daripada menghafal seluruh wine list.